PASAR SUBUH MINGGUAN: KEARIFAN LOKAL YANG TETAP HIDUP DI DESA LONG AMPUNG
Di Desa Long Ampung, terdapat sebuah kebiasaan unik
masyarakat yang terus hidup hingga kini:
pasar subuh yang hanya berlangsung setiap hari Minggu. Pasar ini bukan sekadar
tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan sosial dan budaya masyarakat
Dayak yang tetap terjaga keasriannya, jauh dari hiruk-pikuk pasar modern.
Pasar subuh mingguan di
Long Ampung dimulai bahkan sebelum matahari terbit, sekitar pukul 04.00 WITA,
saat gelap masih menyelimuti desa, masyarakat datang dengan berjalan kaki atau
menggunakan sepeda motor sambil membawa hasil bumi, makanan tradisional, hingga
kerajinan tangan untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan lainnya.
Di pasar ini,
pengunjung dapat menemukan aneka dagangan yang dijual oleh masyarakat, mulai
dari hewan hasil buruan, sayur-sayuran liar yang dipetik dari hutan atau di
kebun milik sendiri, ikan segar dari sungai sekitar, serta kue tradisional khas
masyarakat setempat, yaitu kue apam burak
Keberadaan pasar subuh yang hanya diadakan pada
hari Minggu memiliki alasan historis dan budaya. Dahulu, hari Minggu adalah
waktu ketika masyarakat tidak turun ke ladang atau sawah, sehingga mereka bisa
berkumpul di pasar dan bertemu sesama warga. Hingga kini, tradisi itu tetap
dipertahankan. Usai berbelanja di pasar subuh, masyarakat biasanya segera
pulang untuk bersiap mengikuti ibadah di gereja.
Tradisi pasar subuh ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Long Ampung, sekaligus menjadi ruang yang mempererat hubungan sosial antarsesama warga.
Baca juga:
UPACARA PENURUNAN BENDERA MERAH PUTIH DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
UPACARA PENURUNAN BENDERA MERAH PUTIH DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA