'

Pertanian Padi Gunung Menjadi Tulang Punggung Pekerjaan dan Pendapatan Suku Dayak di Desa Long Ampun

1765807703595.jpeg

Hamparan ladang padi gunung yang terbentang di dataran rendah hingga lereng perbukitan Kalimantan menjadi pemandangan khas kehidupan masyarakat Suku Dayak, khususnya di Desa Long Ampung. Sistem pertanian ini tidak hanya mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam, tetapi juga menjadi sumber utama penghidupan warga desa.

Bagi masyarakat Desa Long Ampung, pertanian padi gunung dan ladang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi desa. Sektor ini menyediakan lapangan pekerjaan sekaligus sumber pendapatan bagi ratusan keluarga. Hasil panen padi gunung tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi sebagian juga dijual ke pasar lokal atau melalui perdagangan eceran untuk memperoleh pendapatan tunai.

Pertanian padi gunung dan ladang merupakan mata pencaharian terbesar masyarakat Dayak, terutama di wilayah pedesaan yang masih terbatas akses infrastrukturnya. Ketergantungan pada sektor ini menjadikan aktivitas berladang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga.

Secara historis, sistem pertanian masyarakat Dayak di Desa Long Ampung berakar pada praktik ladang berpindah (huma) yang telah berlangsung selama berabad-abad. Padi gunung dibudidayakan tanpa sistem irigasi sawah, melainkan mengandalkan kesuburan tanah dan siklus alam. Hingga kini, sistem huma masih dipertahankan sebagai bentuk kearifan lokal yang selaras dengan lingkungan.

Seluruh tahapan pertanian—mulai dari membuka lahan, menanam padi gunung, merawat tanaman, hingga masa panen—dilaksanakan secara gotong royong. Pola kerja bersama ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan ikatan sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Suku Dayak di Desa Long Ampung.


Artikel ini ditulis oleh : Glory Koryanti

Bagikan post ini: