Pertanian Padi Gunung Menjadi Tulang Punggung Pekerjaan dan Pendapatan Suku Dayak di Desa Long Ampun
Hamparan
ladang padi gunung yang terbentang di dataran rendah hingga lereng perbukitan
Kalimantan menjadi pemandangan khas kehidupan masyarakat Suku Dayak, khususnya
di Desa Long Ampung. Sistem pertanian ini tidak hanya mencerminkan kedekatan
masyarakat dengan alam, tetapi juga menjadi sumber utama penghidupan warga
desa.
Bagi masyarakat Desa Long Ampung,
pertanian padi gunung dan ladang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi
desa. Sektor ini menyediakan lapangan pekerjaan sekaligus sumber pendapatan
bagi ratusan keluarga. Hasil panen padi gunung tidak hanya dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi sebagian juga dijual ke pasar
lokal atau melalui perdagangan eceran untuk memperoleh pendapatan tunai.
Pertanian padi gunung dan ladang
merupakan mata pencaharian terbesar masyarakat Dayak, terutama di wilayah
pedesaan yang masih terbatas akses infrastrukturnya. Ketergantungan pada sektor
ini menjadikan aktivitas berladang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan sehari-hari warga.
Secara historis, sistem pertanian
masyarakat Dayak di Desa Long Ampung berakar pada praktik ladang
berpindah (huma) yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Padi gunung dibudidayakan tanpa sistem irigasi sawah, melainkan mengandalkan
kesuburan tanah dan siklus alam. Hingga kini, sistem huma masih dipertahankan
sebagai bentuk kearifan lokal yang selaras dengan lingkungan.
Seluruh tahapan pertanian—mulai dari membuka lahan, menanam padi gunung, merawat tanaman, hingga masa panen—dilaksanakan secara gotong royong. Pola kerja bersama ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan ikatan sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Suku Dayak di Desa Long Ampung.